Logo SantriDigital

keluarga sakinah

Kultum
A
Agus Muslim
3 Mei 2026 3 menit baca 0 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وصحبه أ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أمَّا بعد. قال الله تعالى: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾ (الروم: 21). رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. Jamaah sekalian yang dirahmati Allah, semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Jalan-jalan ke toko buku, Pulangnya beli kerupuk udang. Ada istri, ada suami, Sakinah itu impian setiap orang. Nah, bicara soal "sakinah", seringkali kita membayangkan sebuah rumah tangga yang adem ayem, nggak pernah ada keributan, suami istri romantis terus kayak di sinetron, anak-anak nurut semua, nggak pernah bikin PR kayak malaikat kecil. Wah, kalau kayak begitu, sepertinya resepnya cuma ada di sinetron azab yang belum tayang ya, Pak, Bu? Hehehe. Tapi serius nih, jamaah sekalian. Keluarga sakinah mawaddah warahmah bukan berarti nggak pernah ada masalah. Justru tantangan itu yang bikin bumbu-bumbu rumah tangga makin sedap! Coba bayangkan, kalau makan sayur asem nggak ada asemnya, rasanya gimana? Hambar! Begitu juga rumah tangga, kalau nggak ada sedikit "bumbu" tantangan, nggak seru. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surat Ar-Rum ayat 21: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾ Artinya: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." Nah, di sini Allah tegas bilang, sakinah itu artinya tentram. Coba deh, kapan terakhir kita merasa "tentram" sama pasangan? Kadang masalahnya bukan karena nggak sayang, tapi karena kesalahpahaman kecil yang dibesar-besarkan. Suami pulang kerja capek, istri nanya "Kok baru pulang?". Eh, di telinga suami langsung berubah jadi "Kamu ngapain aja seharian di luar?! Nggak inget waktu?!" Langsung deh, energi buat diskusi jadi energi buat perang dunia ketiga. Sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bertanya kepada beliau: "Siapakah wanita yang paling baik?" Beliau menjawab: "Yaitu wanita yang paling menyenangkan jika dilihat, paling taat jika diperintah, dan paling menjaga diri serta harta suaminya ketika suaminya tidak ada." (Hadits Riwayat An-Nasa'i). Ini juga berlaku sebaliknya untuk istri, tentu mendambakan suami yang baik hati dan bisa jadi pemimpin yang bijaksana. Ulama salaf pernah berkata, "Kehidupan dunia seluruhnya adalah permainan dan senda gurau, dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka, tidaklah kamu memikirkannya?" (QS. Al-An'am: 32). Rumah tangga kita juga bagian dari dunia ini. Kadang kita terlalu serius menanggapi masalah sampai lupa bahwa inti dari pernikahan adalah untuk saling menentramkan, saling menyayangi. Jadi, bagaimana caranya mewujudkan keluarga sakinah yang tidak hanya romantis di hari bahagia, tapi juga kuat saat ada badai? Pertama, jangan lupa "reset" hubungan kita. Tanyakan pada diri sendiri, kapan terakhir kita benar-benar minta maaf dengan tulus? Kapan terakhir kita bilang "Aku cinta kamu" dengan segala kejujuran? Jangan gengsi. Ingat, gengsi itu hanya bikin jarak makin lebar. Minta maaf itu bukan berarti kalah, tapi itu bukti cinta yang lebih besar dari ego kita. Kedua, latih telinga kita untuk mendengar, bukan hanya sekadar mendengar. Dengarkan keluh kesah pasangan, dengarkan apa yang tidak terucap dari lisannya. Kadang, masalah bukan karena kesalahan fatal, tapi karena merasa tidak didengarkan. Dan yang ketiga, yuk kita hadirkan lagi "tawadhu'" dalam rumah tangga kita. Saling menghargai, saling mengingatkan dengan lembut. Suami ingatkan istri, istri ingatkan suami. Bukan saling menyalahkan. Mari kita jadikan rumah kita bukan hanya tempat tinggal, tapi surga kecil di dunia. Tempat di mana tawa lebih sering terdengar daripada tangis. Tempat di mana cinta tumbuh subur, bukan karena nggak ada masalah, tapi karena kita belajar menyelesaikan masalah dengan cinta. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala menganugerahkan kepada kita semua keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Semoga rumah tangga kita menjadi jembatan terindah menuju surga-Nya. Aamiin. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →